Pages

Rabu, 25 September 2013

‘I Can, Sih, A Little-little English’

REP | 26 September 2013 | 09:31 Dibaca: 60   1 Kamis lalu, saya membaca tweet dari pengelola museum. Isinya mempromosikan kegiatan Museum Nasional di akhir pekan. Akan ada workshop seni untuk anak-anak di sana. Tertarik, maka saya memasukkan kegiatan berkunjung ke Museum Nasional dalam jadwal jalan-jalan bersama keluarga. Kebetulan, saya memang belum pernah membawa anak saya yang masih TK ke museum.

Dua hari kemudian (21/9), kami tiba di Museum Nasional. Museum tersebut terletak di Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat.

Setelah membayar tiket masuk (dewasa Rp5000, anak-anak Rp2000) di sisi kiri pintu gedung megah nan luas berlantai marmer itu, kami pun masuk ke dalam ruang pameran. Rombongan kami terdiri dari 5 orang dewasa berusia 30 tahun plus, 1 orang remaja kelas 1 SMA, dan 1 orang anak kelas TK.

“Petualangan” pun dimulai. Kami semua antusias melihat koleksi pameran. Anak saya menghujani kami orangtuanya dengan pertanyaan semacam ‘Ini apa’ atau ‘Kalau ini apa, sih?’.

Kalau tante kecilnya yang sudah 1 SMA, lain lagi. Berbekal smartphone, ia sibuk memotret koleksi pameran beserta keterangan tiap-tiap koleksi. “Untung ikut ke sini. Ini pas banget dengan pelajaran gue sekarang,” katanya saat berada di lantai 1 yang memajang koleksi prasejarah.

Selesai di lantai 1, kami naik ke lantai 2, kemudian ke lantai 3 dengan naik tangga jalan, sedangkan ke lantai 4 dan 5, kami harus naik lift.

Berbeda dari lantai-lantai sebelumnya, di lantai 5, kami mendapati sebuah tulisan berisi larangan memotret. Kami bertanya-bertanya, mengapa hanya di lantai ini larangan tersebut diberlakukan. Sebagai orang yang patuh pada peraturan, maka kami hanya melihat-lihat. Koleksi di sana kebanyakan guci-guci dan piring-piring porselen dari Cina berwarna putih dengan motif-motif burung atau bunga. Ada yang berwarna biru, ada yang berwarna-warni.

Masuk ke ruangan yang paling dalam, kakak saya berbisik, “Mungkin ini penyebab mengapa kita dilarang memotret.” Ia menunjuk papan berisi keterangan koleksi yang tergantung di dinding. Di Museum Nasional, keterangan display diberikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Inggris.

Penasaran, saya membaca kalimat demi kalimat. O, la, la, banyak sekali kesalahan! Sebagai pengunjung lokal, saya malu membacanya. Bagaimana tidak? Hari itu saja, Museum Nasional dikunjungi banyak wisatawan asing: Asia dan Eropa/Amerika. Apa pendapat mereka kalau membaca informasi dalam bahasa Inggris yang amburadul begitu?

“Kalau yang di lantai-lantai bawah, bahasa Inggrisnya sudah bagus,” kata kakak saya lagi.

Tentu saja saya tidak meragukan pendapatnya. Saya saja yang tidak mendalami bahasa Inggris, berpendapat, terjemahan informasi yang tersedia, berantakan. Apalagi kakak saya yang berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris.

“Sudah, Mbak, potret saja,” bisik seorang pria, juga pengunjung lokal. “Bagaimana mau menunjukkan kesalahan kalau tidak ada buktinya?”

Saya tidak mau melanggar aturan, tetapi juga tidak mau membiarkan keteledoran pengelola Museum Nasional berlangsung terus. Maka, saya mengeluarkan telepon seluler saya dan mencatat dua contoh kesalahan.

Tempat temuan “Tek Sing” diterjemahkan menjadi The placed where “Tek Sing” was found.

Rupanya (penulis: kapal tek sing) tidak mencapai tujuannya tetapi tenggelam karam pada tanggal 5 Februari 1822 di sekitar Selat Gelasa, Sumatera karena cuaca buruk. Diterjemahkan menjadi Then the ship was not reach the destiny … (penulis: hapus untuk menyingkat kalimat) because of bad weather.

Kesalahan dalam penerjemahan seharusnya bisa dihindari jika pengelola museum bekerja lebih teliti. Apa susahnya mencari penerjemah yang handal di ibukota negara? Setelah mendapat hasil terjemahan, proses pengawasan harus tetap berjalan. Apakah hasilnya sudah memuaskan? Jangan sampai terjemahannya (bahasa Inggris) bergeser dari maksud teks asli (bahasa Indonesia). Jangan pula terjemahannya jadi tidak sesuai dengan kaidah bahasa sasaran (tenses, vocabulary, dan structure bahasa Inggris).

Bahasa adalah alat komunikasi yang penting. Kalau bahasanya membingungkan, bagaimana informasi bisa diterima dengan baik dan lancar?

Masih mau tetap bilang ‘I can, sih, a little-little english’? Malu, ah.

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.

View the original article here



Peliculas Online

0 komentar:

Posting Komentar