Pages

Tampilkan postingan dengan label Dalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 September 2013

ANAK JALANAN dalam ingatan

perbedaan adalah ilmu kesempurnaan...

Begini nih rasanya kalo kejenuhan mulai menghinggapi alur rutinitas. kerinduan masa-masa ‘liar’ menyeruak lagi. eits!jangan dulu membangun persepsi negatif dari kata ‘liar’ tadi…masa ‘liar’ buatku adalah masa ketika hidup masih berpondasi pada aturan diri. mau ini mau itu semau gue kata orang betawi bilang.tapi yang terpenting resiko juga ditanggung sendiri.hheheheheee..kurang lebihnya 3 tahun silam,,ketika masih menjalani rutinitas sebagai tukang ojek, tepatnya tukang anter jemput mbakyu tercinta kerja di Kota Purwokerto. ada rasa tersendiri tiap kali menempuh perjalanan Sokaraja-Purwokerto-Sokaraja. melewati beberapa titik lampu merah kuning ijo. di situs ini,,acapkali beberapa sosok anak-anak ‘bermain’ dan ‘berdendang. tapi tidak sembarang bermain dan tidak sembarang berdendang. karena dari aktifitasnya itu,membuahkan sejumlah nilai rupiah.
‘anak jalanan’,,sebuah istilah untuk anak-anak yang melakukan aktifitas (hidup,nyari uang,main dll) di jalanan. oleh UU No 23 Th 2002 ttg Perlindungan anak, kriteria anak jalanan dibatasi hingga umur 18 tahun. dalam posting ini,,malas saya membahas ttg peraturan2 atau teori2 ttg anak jalanan. disini saya hanya ingin bermain dengan pola pikir saya sendiri tentang ‘anak jalanan’. tanpa membaca sejumlah penelitian dari beberapa LSM atau aktifis2 di Indonesia,,saya yakin masyarakat terutama pemerintah memahami tentang gambaran umum kehidupan anak jalanan.terutama tentang pengaruh-pengaruh negatifnya bagi anak itu sendiri,entah dari segi fisik maupun psikis. sehingga menimbulkan persepsi negatif pula pada kalangan masyarakat awam secara umum. tapi justru menimbulkan ketertarikan pada diri saya untuk melihat lebih dekat dan ada secercah harap ingin pula merasakan.
ada satu unsur yang membuat saya tertarik pada sosok anak-anak jalanan,terlepas point2 negatif yang dimilikinya. ‘mandiri’,,satu kata yang sangat menentukan dalam proses hidup seorang manusia. besar salut saya pada anak-anak jalanan yang berani mempertahankan hidup dengan tekanan dari berbagai hal. senyum dan canda tawa masih terukir di wajah-wajah mereka meski sesungguhnya fisik & psikis mereka terancam.
beranjak dari berbagai latar belakang alasan yang membuat mereka harus turun ke jalanan. broken home,pergaulan,dan yang paling ironis justru karena desakan dari orang tua yang seyogyanya menjadi pelindung dan penuntun. saya sangat kagum,,,mereka mampu menghilangkan begitu saja rasa malu dalam diri mereka. berkaca pada diri sendiri,,,apakah aku mampu jika harus menjalani kehidupan seperti mereka??/
pada suatu sore, kesempatan dari Allah mempertemukanku dengan seorang anak jalanan laki-laki yang sering saya jumpai di perempatan lampu merah bilangan Pasar Wage Purwokerto. dari perbincangan yang diselingi ngamen, saya tau bahwa dia bernama  Faris. masih berstatus pelajar di sebuah sekolah dasar.tepatnya kelas 5 waktu itu. dan rumahnyapun tidak jauh dari lokasinya ngamen tiap sore. trenyuh saya mendengar alasannya ngamen,,dia tegaskan dia ngamen tanpa paksaan dari orang tuanya. benar-benar niatnya muncul dari benaknya sendiri untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolah. amazing! anak seusia ini, ikhlas menjadi ejekan teman-temannya dan incaran Satpol PP untuk sebuah niat yang tulus. dan satu hal fisik yang membuat saya heran,,wajahnya terlihat ceria,tawa tak pernah luput dari bibirnya.
sebuah cerita kecil yang saya dapat di jalanan Jendral Sudirman..menggugurkan anggapan negatif tentang anak jalanan secara umum. pesan berharga untuk saya sendiri khususnya,,malu adalah virus mematikan untuk sebuah niat yang suci..dan mandiri adalah kunci utama mengarungi proses kehidupan.
hingga posting ini saya buat,,,saya tidak lagi menemukan wajah Faris yang suka nyengir di perempatan Pasar Wage.entah seperti apa Faris sekarang..semoga selalu dalam perlindungan Allah. Salut saya untuk seluruh anak jalanan Indonesia. Allah Bless U!



View the original article here



Peliculas Online

Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu

Para ulama salaf telah memberi contoh terbaik dan teladan yang agung tentang bagaimana bersemangat dalam menuntut ilmu agama, meraihnya serta rindu kepadanya. Marilah wahai saudaraku tercinta, mengembara bersama kami untuk memetik mawar-mawar mereka.

Abdun bin Humaid berkata, ketika pertama kali duduk, Yahya bin Ma’in bertanya kepada saya tentang sebuah hadits. Saya sampaikan kepadanya, “haddatsana Hammad bin Salamah ‘an …“, Yahya bin Ma’in pun memotong “seandainya engkau membacakan hadits dari kitabmu niscaya itu lebih baik dan lebih kuat (validitasnya)”. Lalu aku katakan, “kalau demikian saya akan pergi untuk mengambil kitab saya”. Tiba-tiba Yahya bin Ma’in memegang bajuku dan berkata, “kalau begitu bacakan saja dari hafalanmu, karena saya khawatir tidak bertemu anda lagi (maksudnya ia khawatir Abdun bin Humaid wafat ketika mengambil kitab)”. Maka aku pun membacakannya dari hafalanku, lalu saya pergi mengambil kitabku dan membacakannya lagi (Al Jami’ li Akhlaqir Rawi Wa Adabis Sami’, Al Khatbib Al Baghdadi).

Syaikh Abdullah bin Hamud Az Zubaidi belajar kepada Syaikh Abu Ali Al Qaali. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangannya di sana. Suatu ketika, murid beliau, Abdullah bin Hamud Az Zubaidi, tidur di kandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid yang lain menjumpai sang guru sebelum mereka datang. Agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan. Allah mentakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya sebelum terbit fajar. Az Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri mengikutinya di kegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakai dirinya, Abu Ali berteriak, “celaka, siapa anda?”. Az Zubaidi berkata, “aku muridmu, Az Zubaidi”. Abu Ali berkata, “sejak kapan anda membuntuti saya? Demi Allah tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih tahu tentang ilmu Nahwu selain anda, maka pergilah tinggalkan saya” (Inaabatur Ruwat ‘ala Anbain Nuhaat, Al Qifthi, 2/119).

Bayangkan! Semoga Allah menjaga anda wahai pembaca sekalian, betapa menggelora semangat Az Zubaidi untuk menuntut ilmu dan meraihnya. Kemauan keras yang membuat seorang murid rela tidur bersama ternaj agar bisa cepat menemui gurunya dan mengambil ilmu darinya. Bagaimana kita bisa dibandingkan dengan mereka?

Syu’bah bin Hajjaj datang menemui Khalid Al Hadza’ rahimahumallah. Lalu Syu’bah bin Hajjaj berkata, “wahai Abu Munazil, engkau memiliki hadits tentang ini dan itu, tolong ajari saya hadits tersebut”. Khalid ketika itu sedang sakit dan berkata, “saya sedang sakit”. Syu’bah berkata, “hanya satu hadits saja, tolong ajarkan kepadaku”. Khalid kemudian menyampaikan hadits tersebut. Setelah selesai, Syu’bah berkata kepadanya, “sekarang, anda boleh mati jika anda mau” (Syarafu Ash-habil Hadits, Al Khatib Al Baghdadi, 116).

Ja’far bin Durustuwaih berkata, “kami harus mengambil tempat duduk di sebuah majelis sejak ashar untuk mengikuti kajian esok hari, karena saking padatnya pengajian Ali bin Al Madini. Kami menempatinya sepanjang malam karena khawatir esoknya tidak mendapatkan tempat untuk mendengarkan kajiannya karena saking penuh sesaknya manusia. Saya melihat seorang yang sudah tua di majelis tersebut buang air kecil di jubahnya karena khawatir tempat duduknya diambil apabila ia berdiri untuk buang air” (Al Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’, Al Khatib Al Baghdadi, 2/199).

Kisah seperti ini tidaklah mengherankan karena tempat kajian bukan di masjid tetapi di salah satu tempat yang luas di tengah kota atau di pinggirnya. Murid yang cerdas ini sedang menunggu kehadiran gurunya untuk menyampaikan pelajaran selain di waktu shalat, seperti shalat Shubuh atau Ashar atau antara Zhuhur dan Ashar. Dia ingin kencing namun takut kalau dia berdiri dari tempat duduknya maka akan diduduki oleh orang lain. Jadi dia kencingi jubahnya, dan tidak ada seorang pun yang melihat auratnya. Tempat kajian biasanya besar dan luas. Dia mengeluarkan jubahnya dan melipatnya. Ketika pelajaran usai, ia tumpahkan air seni dari jubahnya, kemudian mencucinya. Apa yang asing dari hal ini?

Abu Hatim berkata, saya mendengar Al Muzani mengatakan, Imam Asy Syafi’i pernah ditanya, “bagaimana semangatmu dalam menuntut ilmu?”. Beliau menjawab, “saya mendengar kalimat yang sebelumnya tidak pernah saya dengar. Maka anggota tubuh saya yang lain ingin memiliki pandangan untuk bisa menikmati ilmu tersebut sebagaimana yang dirasakan telinga”. Lalu beliau ditanya lagi, “bagaimana kerakusan anda terhadap ilmu?”. Beliau menjawab, “seperti rakusnya orang penimbun harta, yang mencapai kepuasan dengan hartanya”. Ditanya lagi, “bagaimana anda mencarinya?”. Beliau menjawab, “sebagaimana seorang ibu mencari anaknya yang hilang, yang ia tidak memiliki anak lain selain dia” (Tawaalit Ta’sis bin Manaqibi Muhammad bin Idris, Ibnu Hajar Al Asqalani, 106).

Ibnu Jandal Al Qurthubi berkata, saya pernah belajar pada Ibnu Mujahid. Suatu hari saya mendatanginya sebelum fajar agar saya bisa duduk lebih dekat dengannya. Ketika saya sampai di gerbang pintu yang menghubungkan ke majelisnya, saya dapati pintu itu tertutup dan saya kesulitan membukanya. Saya berkata dalam hati, “Subhaanallah, saya sudah datang sepagi ini tapi tetap saja tidak bisa duduk di dekatnya?”. Kemudian saya melihat sebuah terowongan di samping rumahnya. Saya membuka dan masuk ke dalamnya. (Itu adalah sebuah terowongan di dalam tanah, saya masuk agar bisa sampai ke ujung terowongan hingga keluar darinya menuju ke majelis ilmu). Ketika sampai di pertengahan terowongan yang semakin menyempit, saya tidak bisa keluar ataupun kembali. Maka saya mencoba melebarkan terowongan selebar-lebarnya agar bisa keluar. Pakaian saya terkoyak, dinding terowongan membekas di tubuh saya, dan sebagian daging badan saya terkelupas. Allah menolong saya untuk bisa keluar darinya, mendapatkan majelis Syaikh dan menghadirinya. Sementara saya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti itu (Inaabatur Ruwat ‘ala Anbain Nuhaat, Al Qifthi, 2/363 dengan saduran).

Sa’id bin Jubair berkata, “saya pernah bersama Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma berjalan di salah satu jalan di Mekkah pada malam hari. Dia mengajari saya beberapa hadits dan saya menulisnya di atas kendaraan dan paginya saya menulisnya kembali di kertas” (Sunan Ad Darimi, 1/105).

Imam Asy Syafi’i berkata, “saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya mengajari saya. Saya mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, saya menaruhnya di dalam botol yang sudah tua” (Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhilihi, Ibnu ‘Abdil Barr, 1/98).

Salim Ar Razy menceritakan bahwa Syaikh Hamid Al Isfirayaini pada awalnya adalah seorang penjaga (satpam) di sebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu di tempat jaganya karena terlalu fakir dan tidak mampu membeli minyak tanah untuk lampunya. Beliau makan dari gajinya sebagai penjaga (Thabaqatus Syafi’iyah Al Kubra, Tajuddin As Subki, 4/61).

Ibnu Asakir ketika menyebutkan biografi seorang hamba yang shalih, Abu Manshur Muhammad bin Husain An Naisaburi, beliau berkata, “beliau (Abu Manshur) adalah orang yang selalu giat dan semangat dalam belajar. Meski dalam keadaan faqir dan tidak punya. Sampai-sampai beliau menulis pelajarannya dan mengulangi membacanya di bawah cahaya rembulan. Karena tidak punya sesuatu untuk membeli minyak tanah. Walaupun beliau dalam keadaan faqir, namun beliau selalu hidup wara’ dan tidak mengambil harta yang syubhat sedikitpun” (Tabyiin Kidzbil Muftari, Ibnu Asakir Ad Dimasyqi).

Ditulis ulang dari buku “102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara“, hal 30-33, terbitan Elba – Surabaya, merupakan terjemahan dari kitab Kaifa Tatahammas fi Thalabil Ilmis Syar’i karya Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Abdillah

Artikel Muslim.Or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel

View the original article here



Peliculas Online

Selasa, 24 September 2013

Bambang Dasuki, Terang di Dalam Gelap


Oleh Indira Permanasari

Empat puluh enam tahun lalu, kegelapan menjadi teman Bambang Basuki (63) saat penglihatannya terenggut tiba-tiba. Namun, Bambang tidak menyerah dan bekerja menciptakan "terang" bagi tunanetra lainnya.

Di balik dinding bangunan di pojok Jalan Gunung Balong, Jakarta Selatan, itu para tunanetra yang haus ilmu menjadi raja. Di kantor Yayasan Mitra Netra itulah tersedia ribuan judul buku dalam huruf braille sehingga dengan rabaan jari, mereka dapat membacanya.

Setiap tahun, sekitar 150 judul buku digandakan menjadi 5.000 volume buku braille. Pekerja di yayasan itu—baik yang bermata awas maupun tunanetra—mengembangkan teknologi buku braille dengan komputer. Peranti lunak didesain untuk mengubah file teks berbahasa Indonesia dan Inggris menjadi file braille. Mereka pun menyempurnakan sistem braille Indonesia bidang bahasa, matematika, fisika, dan kimia. Selain itu, juga dibangun perpustakaan braille online dan digitalisasi buku bicara.

Para tenaga staf Mitra Netra pun dengan setia menyelenggarakan layanan dukungan dan pendidikan, mulai dari layanan rehabilitasi, bimbingan belajar, pendampingan baca, hingga tutorial untuk mata pelajaran tertentu, serta pelatihan komputer bagi mahasiswa guna membantu peserta didik tunanetra.

Berdirinya Mitra Netra yang telah dirasakan jasanya oleh para tunanetra di negeri ini tak lepas dari perjuangan Bambang, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra sekaligus salah satu pendiri lembaga itu.

Kegelapan yang tiba-tiba

Kegelapan datang tiba-tiba ketika Bambang duduk di kelas II SMA. Penyakit glaukoma merenggut penglihatannya. Meredupnya pandangan itu sempat disembunyikan Bambang dari teman-teman dan guru di sekolah. Ujian akhir SMA dilewatinya dengan menebak jawaban untuk soal yang tak terlihat jelas. ”Saya bisa lulus ujian akhir SMA jurusan ilmu alam itu sebuah keajaiban dan keberuntungan,” ujarnya.

Bambang begitu terkejut. Ia memberontak dan menyangkal kebutaannya. Betapa tidak? Sebelumnya, Bambang yang pandai dan jago menggambar bercita-cita menjadi arsitek. Namun, setelah penglihatannya hilang, ia merasa kehidupannya hancur. "Untuk membaca Al Quran saja saya tidak bisa lagi. Saya sudah berpendapat tidak ada lagi masa depan. Sudah operasi mata tujuh kali, tetapi kondisi tidak membaik," ujarnya.

Pada masa itu, belum banyak beredar informasi tentang kehidupan tunanetra lainnya. "Saya cuma berpikir, sambil menunggu ajal menjemput, setidaknya harus ada hiburan dan tambah ibadah," ucapnya.

Bambang kemudian belajar membaca braille untuk mengakses bacaan-bacaan yang menghibur hatinya. "Saya ingin bisa membaca Al Quran braille untuk investasi di akhirat," ujar Bambang yang saat itu menyewa guru privat braille.

Dalam suatu kesempatan, guru braille itu memperkenalkan Bambang kepada seorang tunanetra yang menjadi guru di sekolah luar biasa (SLB). Pertemuan itu membalik alam pikir Bambang yang sedang di titik nadir. "Nyata ada tunanetra yang bisa menjadi guru dan bermanfaat bagi masyarakat," ujar Bambang yang menyala kembali asanya.

Mengikuti jejak guru tunanetra itu, Bambang mencoba mendaftar ke berbagai sekolah pendidikan guru (SPG) di Jakarta. Namun, rentetan penolakan ia terima. Paling menyakitkan ketika kepala sekolah tidak bersedia ditemui walaupun ada di tempat. "Itu diskriminasi besar. Sekolah itu tidak mengetes kemampuan saya dan langsung menolak," ujar Bambang.

Bambang kemudian beralih mendaftar ke kursus diklat singkat penyetaraan ijazah guru atau kursus pendidikan guru. Jika mendapatkan ijazah setara SPG itu, setidaknya dia masih bisa mengajar. Bambang kembali ditolak.

Dia tidak menyerah dan menyetujui ide seorang tantenya untuk mencoba langsung ke IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Namun, lagi-lagi bagian administrasi menolaknya dengan alasan mahasiswa harus sehat jasmani dan rohani. Buta warna saja tidak boleh mendaftar saat itu. Untungnya, rektor saat itu, Winarno Surakhmad, membuka jalan dengan memberi Bambang kesempatan mengikuti tes.

Selama di universitas, materi pelajaran direkam. Keterbatasan buku teks, apalagi yang dalam tulisan braille, menjadi persoalan. Bambang terpaksa banyak bergantung kepada sukarelawan pembaca. Dia berhasil lulus dengan IPK 3,74.

Mitra tunanetra

Dari perjalanan hidupnya, Bambang sampai pada kesimpulan, tunanetra tidak bisa hanya menunggu dan menuntut, tetapi harus berperan.

Bambang dan sejumlah rekannya lalu membangun Yayasan Mitra Netra sebagai fasilitas belajar, memberikan bantuan advokasi, dan pendorong terciptanya masyarakat inklusif. Dia memimpin lembaga itu.

Bambang meyakini, tunanetra mampu berprestasi di lembaga pendidikan mana pun seandainya ada lembaga pendukung yang membantu mereka belajar. Saat ini, tunanetra berada di lingkungan (lembaga pendidikan) yang belum dipersiapkan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.

Yayasan Mitra Netra juga mengadvokasi dan mendampingi sekolah inklusif—tempat murid yang awas dan tunanetra bersama-sama belajar—untuk meningkatkan pelayanan bagi tunanetra.

"Mengapa pendidikan inklusif itu hebat? Karena di situ dikumpulkan orang-orang berbeda, miniatur masyarakat. Dalam keheterogenan itulah mereka dididik untuk berinteraksi, saling menghargai, demokratis, dan mampu bekerja sama," ujarnya.

Bambang Basuki

Lahir: Medan, Sumatera Utara, April 1950
Pendidikan: Jurusan Bahasa Inggris IKIP Negeri Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta)
Riwayat Kerja:
- Guru di SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta (1982)
- Direktur eksekutif dan salah satu pendiri Yayasan Mitra Netra
Organisasi:

- Anggota kelompok kerja (pokja) persiapan penyusunan rancangan undang-undang tentang penyandang cacat (1993)
- Wakil Ketua Pokja Pengembang Pendidikan Inklusi di DKI Jakarta (2002)



View the original article here



Peliculas Online

Dorong Anak Terapkan Sains dalam Keseharian

Suasana Kalbe Junior Science Fair di Ecovention Ancol Taman Impian. Kegiatan ini berlangsung pada 20-22 September 2013. | KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI


JAKARTA, KOMPAS.com
- Untuk membumikan sains, para pelajar didorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sembilan inovasi karya 14 pelajar sekolah dasar yang menyisihkan 646 alat lain dipamerkan dalam acara Kalbe Junior Scientist Award 2013, Sabtu (21/9/2013), di Jakarta.

Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) adalah kompetisi produk inovasi berdasarkan sains. Dalam kompetisi itu, para siswa dari kelas IV-VI sekolah dasar diharapkan menciptakan produk orisinal sebagai solusi masalah di sekitarnya.

Niko Demus (13) dan Terah Fettrus (13), pelajar kelas VI SD Negeri 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, membuat sistem pemompa air otomatis di perahu tanpa bahan bakar untuk mengatasi masuknya air ke perahu. "Di kampung saya, perahu motor adalah transportasi utama, tetapi perahu sering kemasukan air karena jeram di sana besar," ujar Niko.

Mereka memasukkan selang sepanjang 10 sentimeter dan berdiameter 2 sentimeter ke belakang perahu yang dilubangi. Bagian selang yang di luar perahu ditaruh serong berdekatan dengan mesin. "Saat perahu melaju dengan kecepatan minimal 10 kilometer per jam, air di perahu keluar otomatis lewat selang itu," kata Niko yang didampingi gurunya, Fransiska Yanti (30).

Inovasi itu merupakan penerapan Prinsip Bernoulli, air mengalir dari tempat bertekanan tinggi (dalam perahu) ke tekanan rendah (luar perahu).

Pelajar kelas V SD Muhammadiyah Manyar Gresik, Diva Tsabita Shabrina Aziz (10) dan Nisrina Kamilah Al Hafizh (10), membuat alat pemberi makan ikan otomatis karena sering lupa memberi makan ikan peliharaan makan secara teratur.

Mereka memodifikasi wadah semprotan pengharum ruangan bekas. Wadah itu diubah jadi wadah penampung makanan ikan. Waktu keluar makanan bisa diatur 10-40 menit. Demikian penjelasan Diva didampingi gurunya, M Fadloli Aziz (35).

Adapun Radinka Alkira Mufti (11), pelajar kelas VI SD Kuntum Cemerlang, Bandung, membuat lampu penanda untuk pelari pagi karena khawatir dengan keselamatan ibunya yang sering berolahraga. "Kalau subuh gelap, sering ada kecelakaan pelari tertabrak motor atau mobil," ujarnya.

Radinka memanfaatkan tabung suntik bekas berukuran 500 mililiter. Ia menaruh lilitan kawat tembaga di tengah tabung plastik. Di kiri lilitan dimasukkan lima keping magnet neodymium, sedangkan di sisi kanan disambungkan dengan lampu LED dari mouse komputer.

Tabung menghasilkan cahaya ketika digerakkan. Tabung diletakkan di tubuh pelari, di lengan atau punggung. Saat pelari bergerak, lampu akan menyala sehingga mereka bisa terlihat oleh pengendara sepeda motor dan mobil.

Radinka yang dibimbing guru Adi Marianto (30) menerapkan prinsip induksi magnet. Jika alat bergerak, kepingan magnet menghasilkan ion yang kemudian menjadi energi listrik saat melewati kawat tembaga.

Manajer Komunikasi PT Kalbe Farma Tbk Hari Nugroho mengatakan, KJSA bertujuan memberikan motivasi kepada para pelajar agar kreatif dan peka terhadap lingkungan. Kriteria penilaian didasarkan ide kreatif dan orisinal dari pelajar. (K04)



View the original article here



Peliculas Online

Dorong Anak Terapkan Sains dalam Keseharian

Suasana Kalbe Junior Science Fair di Ecovention Ancol Taman Impian. Kegiatan ini berlangsung pada 20-22 September 2013. | KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI


JAKARTA, KOMPAS.com
- Untuk membumikan sains, para pelajar didorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sembilan inovasi karya 14 pelajar sekolah dasar yang menyisihkan 646 alat lain dipamerkan dalam acara Kalbe Junior Scientist Award 2013, Sabtu (21/9/2013), di Jakarta.

Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) adalah kompetisi produk inovasi berdasarkan sains. Dalam kompetisi itu, para siswa dari kelas IV-VI sekolah dasar diharapkan menciptakan produk orisinal sebagai solusi masalah di sekitarnya.

Niko Demus (13) dan Terah Fettrus (13), pelajar kelas VI SD Negeri 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, membuat sistem pemompa air otomatis di perahu tanpa bahan bakar untuk mengatasi masuknya air ke perahu. "Di kampung saya, perahu motor adalah transportasi utama, tetapi perahu sering kemasukan air karena jeram di sana besar," ujar Niko.

Mereka memasukkan selang sepanjang 10 sentimeter dan berdiameter 2 sentimeter ke belakang perahu yang dilubangi. Bagian selang yang di luar perahu ditaruh serong berdekatan dengan mesin. "Saat perahu melaju dengan kecepatan minimal 10 kilometer per jam, air di perahu keluar otomatis lewat selang itu," kata Niko yang didampingi gurunya, Fransiska Yanti (30).

Inovasi itu merupakan penerapan Prinsip Bernoulli, air mengalir dari tempat bertekanan tinggi (dalam perahu) ke tekanan rendah (luar perahu).

Pelajar kelas V SD Muhammadiyah Manyar Gresik, Diva Tsabita Shabrina Aziz (10) dan Nisrina Kamilah Al Hafizh (10), membuat alat pemberi makan ikan otomatis karena sering lupa memberi makan ikan peliharaan makan secara teratur.

Mereka memodifikasi wadah semprotan pengharum ruangan bekas. Wadah itu diubah jadi wadah penampung makanan ikan. Waktu keluar makanan bisa diatur 10-40 menit. Demikian penjelasan Diva didampingi gurunya, M Fadloli Aziz (35).

Adapun Radinka Alkira Mufti (11), pelajar kelas VI SD Kuntum Cemerlang, Bandung, membuat lampu penanda untuk pelari pagi karena khawatir dengan keselamatan ibunya yang sering berolahraga. "Kalau subuh gelap, sering ada kecelakaan pelari tertabrak motor atau mobil," ujarnya.

Radinka memanfaatkan tabung suntik bekas berukuran 500 mililiter. Ia menaruh lilitan kawat tembaga di tengah tabung plastik. Di kiri lilitan dimasukkan lima keping magnet neodymium, sedangkan di sisi kanan disambungkan dengan lampu LED dari mouse komputer.

Tabung menghasilkan cahaya ketika digerakkan. Tabung diletakkan di tubuh pelari, di lengan atau punggung. Saat pelari bergerak, lampu akan menyala sehingga mereka bisa terlihat oleh pengendara sepeda motor dan mobil.

Radinka yang dibimbing guru Adi Marianto (30) menerapkan prinsip induksi magnet. Jika alat bergerak, kepingan magnet menghasilkan ion yang kemudian menjadi energi listrik saat melewati kawat tembaga.

Manajer Komunikasi PT Kalbe Farma Tbk Hari Nugroho mengatakan, KJSA bertujuan memberikan motivasi kepada para pelajar agar kreatif dan peka terhadap lingkungan. Kriteria penilaian didasarkan ide kreatif dan orisinal dari pelajar. (K04)



View the original article here



Peliculas Online

Syarat Mampu dalam Haji

Apa syarat seseorang wajib berhaji? Syarat wajib haji tentu saja harus mampu, baik dalam bekal maupun dalam hal mampu melakukan perjalanan. Yang tidak mampu dalam hal ini, maka tidak terkena wajib haji.

Kembali hadits tentang masalah haji ini kami bawakan dari kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani, yaitu hadits no. 712 dan 713:

?????? ?????? – ??? ???? ??? – ?????: – ????? ??? ??????? ????????, ??? ???????????? ?????: ” ????????? ?????????????? ” – ??????? ?????????????????? ??????????? ???????????, ???????????? ???????????

???????????? ??????????????? ???? ??????? ?????? ?????? ???????, ????? ??????????? ??????

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada yang bertanya pada Rasulullah , “Wahai Rasulullah, apa itu sabiil (mampu dalam haji)?” Jawab beliau, “Mampu dalam hal bekal dan berkendaraan.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan dishahihkan oleh Al Hakim. Namun yang tepat hadits tersebut mursal. Tirmidzi juga mengeluarkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Umar dan sanadnya dho’if.

(HR. Ad Daruquthni 2: 216 dan Al Hakim 1: 442).

Kesimpulan dari Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam (5: 167), tidak shahih sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits dalam bab ini.

Ada dalil Al Qur’an yang membicarakan masalah syarat mampu dalam haji. Allah Ta’ala berfirman,

????????? ????? ???????? ????? ????????? ???? ?????????? ???????? ????????

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali ‘Imran: 97).

Ayat di atas menunjukkan bahwa mampu merupakan syarat wajib haji. Syarat mampu mesti ada karena haji berkaitan dengan ibadah yang menempuh perjalanan jauh. Makanya, mampu adalah syarat dalam haji sebagaimana jihad.

Namun para ulama berselisih pendapat dalam syarat mampu di sini. Mayoritas ulama (baca: jumhur) dari kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hambali berpendapat bahwa yang disebut mampu adalah dalam hal bekal dan berkendaraan. Inilah pendapat mayoritas ulama salaf. Mereka berdalil dengan hadits yang dibicarakan dalam bab ini yang menyebutkan mampu adalah dalam hal bekal dan perjalanan. Mereka katakan bahwa meskipun hadits tersebut menuai kritikan namun jika dikumpulkan dari berbagai jalan, maka jadilah kuat. Sehingga intinya hadits tersebut bolehlah dijadikan hujjah bahwa mampu yang dimaksud adalah dalam perihal bekal dan berkendaraan.

Dalam Tafsri Ibnu Jarir disebutkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang shahih, ia berkata mengenai syarat mampu dalam haji yaitu jika seseorang sehat fisiknya dan punya harta untuk bekal dan perjalanan tanpa menyusahkan diri.

Sedangkan Imam Malik mengatakan bahwa kemampuan dilihat dari kemampuan setiap orang. Ada yang mampu dilihat dari bekal dan mampu berkendaraan, sedangkan ia tidak mampu berjalan. Ada juga yang mampu dengan berjalan dengan kedua kakinya dan tidak berkendaraan. Inilah pendapat dari Ibnu Zubair, ‘Atho’, dan jadi pilihan Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Karena ketika Allah mewajibkan haji cuma disyaratkan kemampuan. Mampu di sini bersifat umum. Maka siapa saja yang mampu dengan harta atau fisik badan, maka masuk dalam kemampuan secara umum.

Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat. Secara alasan, pendapat inilah yang lebih tepat karena dilihat dari makna bahasa, sabiil berarti jalan. Siapa saja yang mendapati jalan untuk berhaji, tidak ada penyakit yang menghalangi, tidak ada kemalasan atau musuh yang merintangi, begitu pula tidak lemah untuk berjalan, atau tidak dihalangi dari kurangnya perbekalan air atau bekal secara umum, maka ia sudah dikenakan kewajiban haji. Jika tidak, maka tidak wajib haji. Wallahu a’lam.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 5: 166-168.

Selesai disusun di tengah malam, Kamis, 13 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel

View the original article here



Peliculas Online

Selasa, 09 April 2013

Dibekuk, Pelaku Pembunuhan Pria di Dalam Goa

Dibekuk, Pelaku Pembunuhan Pria di Dalam Goa KOMPAS.com/ Abdul Haq Warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tengah berkurumun saat evakuasi terhadap sesosok mayat pria dengan kondisi kaki dan tangan terikat didalam goa, Senin (25/03/2013).

BONE, KOMPAS.com - Aparat kepolisian di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Senin (1/4/2013), akhirnya membekuk pelaku pembunuhan terhadap seorang pria yang ditemukan dalam goa dengan kondisi tangan dan kaki terikat. Pelaku dibekuk di tempat persembunyiannya setelah sempat buron selama tujuh hari.

Pelaku pembunuhan terhadap pria beristeri empat bernama Selleng alias Anto (38) di areal perkebunan Dusun Pottanae, Desa Tajong, Kecamatan Tellusiattingnge itu sempat menggegerkan warga. Pelaku yang bernama Ruslan alias Ullang (38) warga Dusun Pottanae dibekuk di rumah kerabatnya di Desa Lara, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan tanpa perlawanan.

Polisi mengungkapkan, pelaku dapat dibekuk dengan mudah berkat kerjasama antara Kepolisian Resor (Polres) Bone dan pihak Polres Luwu Utara. "Pelaku dibekuk di Luwu Utara dan kami menangkapnya ke bersama anggota yang bertugas di sana dan sekarang ini pelaku telah ditahan di Mapolsek," ungkap AKP Musliadi, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tellusiattingnge.

Seperti diberitakan sebelumnya, korban yang adalah warga Desa Cinnong Tasi, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo ini ditemukan dalam goa dengan kondisi yang sangat memperihatinkan. Dari hasil penyelidikan polisi terungkap, korban dibunuh lantaran kawin lari dengan seorang gadis asal di mana korban ditemukan.

"Pelaku adalah bapak dari gadis yang dibawa lari dan korban dibunuh saat hendak meminta maaf sekaligus minta restu di rumah pelaku," kata Musliadi.


View the original article here

Rabu, 03 April 2013

Dibekuk, Pelaku Pembunuhan Pria di Dalam Goa

Dibekuk, Pelaku Pembunuhan Pria di Dalam Goa KOMPAS.com/ Abdul Haq Warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tengah berkurumun saat evakuasi terhadap sesosok mayat pria dengan kondisi kaki dan tangan terikat didalam goa, Senin (25/03/2013).

BONE, KOMPAS.com - Aparat kepolisian di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Senin (1/4/2013), akhirnya membekuk pelaku pembunuhan terhadap seorang pria yang ditemukan dalam goa dengan kondisi tangan dan kaki terikat. Pelaku dibekuk di tempat persembunyiannya setelah sempat buron selama tujuh hari.

Pelaku pembunuhan terhadap pria beristeri empat bernama Selleng alias Anto (38) di areal perkebunan Dusun Pottanae, Desa Tajong, Kecamatan Tellusiattingnge itu sempat menggegerkan warga. Pelaku yang bernama Ruslan alias Ullang (38) warga Dusun Pottanae dibekuk di rumah kerabatnya di Desa Lara, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan tanpa perlawanan.

Polisi mengungkapkan, pelaku dapat dibekuk dengan mudah berkat kerjasama antara Kepolisian Resor (Polres) Bone dan pihak Polres Luwu Utara. "Pelaku dibekuk di Luwu Utara dan kami menangkapnya ke bersama anggota yang bertugas di sana dan sekarang ini pelaku telah ditahan di Mapolsek," ungkap AKP Musliadi, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tellusiattingnge.

Seperti diberitakan sebelumnya, korban yang adalah warga Desa Cinnong Tasi, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo ini ditemukan dalam goa dengan kondisi yang sangat memperihatinkan. Dari hasil penyelidikan polisi terungkap, korban dibunuh lantaran kawin lari dengan seorang gadis asal di mana korban ditemukan.

"Pelaku adalah bapak dari gadis yang dibawa lari dan korban dibunuh saat hendak meminta maaf sekaligus minta restu di rumah pelaku," kata Musliadi.


View the original article here