Pages

Tampilkan postingan dengan label Dorong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dorong. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Boediono Dorong Penerapan \"E-Learning\"


JAKARTA, KOMPAS.com
- Wakil Presiden Boediono mendorong diterapkannya pembelajaran online atau e-learning dalam dunia pendidikan di Indonesia. Menurut Boediono, e-learning merupakan lompatan untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan dunia internasional.

"E-learning, apabila didesain dengan baik, akan dapat menjawab sebagian besar dari hambatan. Dan dengan itu, pemerataan pendidikan dapat kita percepat," kata Boediono saat memberikan Kuliah Perdana Universitas Surya di Jakarta, Selasa (3/9/2013).

Boediono mengakui bahwa kondisi pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan. Ia berharap setiap anak Indonesia di pelosok mana pun, apa pun latar belakang sosial ekonominya dapat dengan mudah dan murah memperoleh pendidikan yang bermutu.

Boediono mengatakan, banyak faktor yang mengakibatkan ketertinggalan pendidikan Indonesia, mulai dari keterpencilan, keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan, hingga ketidakmerataan penyebaran guru yang mumpuni. Selain itu, adanya hambatan kemiskinan, biaya sekolah yang mahal, dan masih ada keluarga yang kurang menghargai pendidikan bagi anak-anaknya.

Boediono menyarankan agar e-learning dibangun berskala nasional dengan diterapkan mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Jika diterapkan di perguruan tinggi, mahasiswa di mana pun, kapan pun dapat dengan mudah mengakses mata kuliah.

Paket itu juga dapat menyediakan akses pada rekaman buku teks dan referensi utama, bahan latihan, tugas, lengkap dengan program evaluasinya. Selain itu, kata Boediono, paket harus didesain sebagai program dua arah yang memungkinkan interaksi antara program dengan pemakai. Sistem yang lebih maju dapat memungkinkan komunikasi real time antara instruktur dengan mahasiswa.

"Keuntungan utama dari sistem pembelajaran online adalah potensinya untuk menjangkau mahasiswa dalam jumlah yang berlipatganda dibanding dengan sistem pembelajaran konvensional dan dengan jaminan standar kualitas pengajar minimal yang memadai. Pada skala besar, biaya per mahasiswa akan sangat rendah. Ini tentu akan membantu terbukanya akses yang makin lebar bagi mereka yang sebelumnya tidak dapat mengeyam pendidikan tinggi," kata Boediono.

Untuk mengimplementasikan e-learning, tambah Boediono, perlu dibangun terlebih dulu teknologi informasi yang handal hingga seluruh pelosok. Setelah itu, perlu dikembangkan sistem softwarenya yang mampu melayani semua interaksi dalam proses pembelajaran.

"Saya mendengar bahwa beberapa institusi pendidikan di dalam negeri sudah mengembangkan sistem semacam ini, meskipun aplikasinya masih terbatas. Di luar negeri, sudah ada sistem yang melayani pada skala global. Kita tentu bisa belajar dari pengalaman mereka," katanya.

Boediono menambahkan, semua itu tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun, ia meyakini bahwa manfaatnya akan berlipat ganda dari yang dikeluarkan.

"Saya perlu tekankan bahwa penerapan e-learning ini tidak harus menggantikan sistem pengajaran tatap muka yang dilaksanakan 3.000 perguruan tinggi yang ada. Sistem itu merupakan penguat. Tapi pada waktunya, tentu pengajaran tatap muka yang nyata-nyata di bawah standar harus hilang dan diganti dengan yang lebih baik," papar Boediono.

Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

View the original article here



Peliculas Online

Dorong Anak Terapkan Sains dalam Keseharian

Suasana Kalbe Junior Science Fair di Ecovention Ancol Taman Impian. Kegiatan ini berlangsung pada 20-22 September 2013. | KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI


JAKARTA, KOMPAS.com
- Untuk membumikan sains, para pelajar didorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sembilan inovasi karya 14 pelajar sekolah dasar yang menyisihkan 646 alat lain dipamerkan dalam acara Kalbe Junior Scientist Award 2013, Sabtu (21/9/2013), di Jakarta.

Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) adalah kompetisi produk inovasi berdasarkan sains. Dalam kompetisi itu, para siswa dari kelas IV-VI sekolah dasar diharapkan menciptakan produk orisinal sebagai solusi masalah di sekitarnya.

Niko Demus (13) dan Terah Fettrus (13), pelajar kelas VI SD Negeri 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, membuat sistem pemompa air otomatis di perahu tanpa bahan bakar untuk mengatasi masuknya air ke perahu. "Di kampung saya, perahu motor adalah transportasi utama, tetapi perahu sering kemasukan air karena jeram di sana besar," ujar Niko.

Mereka memasukkan selang sepanjang 10 sentimeter dan berdiameter 2 sentimeter ke belakang perahu yang dilubangi. Bagian selang yang di luar perahu ditaruh serong berdekatan dengan mesin. "Saat perahu melaju dengan kecepatan minimal 10 kilometer per jam, air di perahu keluar otomatis lewat selang itu," kata Niko yang didampingi gurunya, Fransiska Yanti (30).

Inovasi itu merupakan penerapan Prinsip Bernoulli, air mengalir dari tempat bertekanan tinggi (dalam perahu) ke tekanan rendah (luar perahu).

Pelajar kelas V SD Muhammadiyah Manyar Gresik, Diva Tsabita Shabrina Aziz (10) dan Nisrina Kamilah Al Hafizh (10), membuat alat pemberi makan ikan otomatis karena sering lupa memberi makan ikan peliharaan makan secara teratur.

Mereka memodifikasi wadah semprotan pengharum ruangan bekas. Wadah itu diubah jadi wadah penampung makanan ikan. Waktu keluar makanan bisa diatur 10-40 menit. Demikian penjelasan Diva didampingi gurunya, M Fadloli Aziz (35).

Adapun Radinka Alkira Mufti (11), pelajar kelas VI SD Kuntum Cemerlang, Bandung, membuat lampu penanda untuk pelari pagi karena khawatir dengan keselamatan ibunya yang sering berolahraga. "Kalau subuh gelap, sering ada kecelakaan pelari tertabrak motor atau mobil," ujarnya.

Radinka memanfaatkan tabung suntik bekas berukuran 500 mililiter. Ia menaruh lilitan kawat tembaga di tengah tabung plastik. Di kiri lilitan dimasukkan lima keping magnet neodymium, sedangkan di sisi kanan disambungkan dengan lampu LED dari mouse komputer.

Tabung menghasilkan cahaya ketika digerakkan. Tabung diletakkan di tubuh pelari, di lengan atau punggung. Saat pelari bergerak, lampu akan menyala sehingga mereka bisa terlihat oleh pengendara sepeda motor dan mobil.

Radinka yang dibimbing guru Adi Marianto (30) menerapkan prinsip induksi magnet. Jika alat bergerak, kepingan magnet menghasilkan ion yang kemudian menjadi energi listrik saat melewati kawat tembaga.

Manajer Komunikasi PT Kalbe Farma Tbk Hari Nugroho mengatakan, KJSA bertujuan memberikan motivasi kepada para pelajar agar kreatif dan peka terhadap lingkungan. Kriteria penilaian didasarkan ide kreatif dan orisinal dari pelajar. (K04)



View the original article here



Peliculas Online

Dorong Anak Terapkan Sains dalam Keseharian

Suasana Kalbe Junior Science Fair di Ecovention Ancol Taman Impian. Kegiatan ini berlangsung pada 20-22 September 2013. | KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI


JAKARTA, KOMPAS.com
- Untuk membumikan sains, para pelajar didorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sembilan inovasi karya 14 pelajar sekolah dasar yang menyisihkan 646 alat lain dipamerkan dalam acara Kalbe Junior Scientist Award 2013, Sabtu (21/9/2013), di Jakarta.

Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) adalah kompetisi produk inovasi berdasarkan sains. Dalam kompetisi itu, para siswa dari kelas IV-VI sekolah dasar diharapkan menciptakan produk orisinal sebagai solusi masalah di sekitarnya.

Niko Demus (13) dan Terah Fettrus (13), pelajar kelas VI SD Negeri 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, membuat sistem pemompa air otomatis di perahu tanpa bahan bakar untuk mengatasi masuknya air ke perahu. "Di kampung saya, perahu motor adalah transportasi utama, tetapi perahu sering kemasukan air karena jeram di sana besar," ujar Niko.

Mereka memasukkan selang sepanjang 10 sentimeter dan berdiameter 2 sentimeter ke belakang perahu yang dilubangi. Bagian selang yang di luar perahu ditaruh serong berdekatan dengan mesin. "Saat perahu melaju dengan kecepatan minimal 10 kilometer per jam, air di perahu keluar otomatis lewat selang itu," kata Niko yang didampingi gurunya, Fransiska Yanti (30).

Inovasi itu merupakan penerapan Prinsip Bernoulli, air mengalir dari tempat bertekanan tinggi (dalam perahu) ke tekanan rendah (luar perahu).

Pelajar kelas V SD Muhammadiyah Manyar Gresik, Diva Tsabita Shabrina Aziz (10) dan Nisrina Kamilah Al Hafizh (10), membuat alat pemberi makan ikan otomatis karena sering lupa memberi makan ikan peliharaan makan secara teratur.

Mereka memodifikasi wadah semprotan pengharum ruangan bekas. Wadah itu diubah jadi wadah penampung makanan ikan. Waktu keluar makanan bisa diatur 10-40 menit. Demikian penjelasan Diva didampingi gurunya, M Fadloli Aziz (35).

Adapun Radinka Alkira Mufti (11), pelajar kelas VI SD Kuntum Cemerlang, Bandung, membuat lampu penanda untuk pelari pagi karena khawatir dengan keselamatan ibunya yang sering berolahraga. "Kalau subuh gelap, sering ada kecelakaan pelari tertabrak motor atau mobil," ujarnya.

Radinka memanfaatkan tabung suntik bekas berukuran 500 mililiter. Ia menaruh lilitan kawat tembaga di tengah tabung plastik. Di kiri lilitan dimasukkan lima keping magnet neodymium, sedangkan di sisi kanan disambungkan dengan lampu LED dari mouse komputer.

Tabung menghasilkan cahaya ketika digerakkan. Tabung diletakkan di tubuh pelari, di lengan atau punggung. Saat pelari bergerak, lampu akan menyala sehingga mereka bisa terlihat oleh pengendara sepeda motor dan mobil.

Radinka yang dibimbing guru Adi Marianto (30) menerapkan prinsip induksi magnet. Jika alat bergerak, kepingan magnet menghasilkan ion yang kemudian menjadi energi listrik saat melewati kawat tembaga.

Manajer Komunikasi PT Kalbe Farma Tbk Hari Nugroho mengatakan, KJSA bertujuan memberikan motivasi kepada para pelajar agar kreatif dan peka terhadap lingkungan. Kriteria penilaian didasarkan ide kreatif dan orisinal dari pelajar. (K04)



View the original article here



Peliculas Online