Pages

Minggu, 13 Januari 2013

Penjualan PC Menurun, Salah Windows 8

KOMPAS.com - Awalnya, Windows 8, sistem operasi terbaru Microsoft, diprediksi mampu mendorong penjualan PC dunia. Sayangnya, setelah beberapa bulan beredar, Windows 8 tidak mampu berbuat banyak.

Menurut laporan yang diluncurkan oleh lembaga riset International Data Corporation (IDC), pengiriman PC global di kuartal 4 tahun fiskal 2012 hanya mencapai 89,8 juta unit, menurun 6,4 persen jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada 2011.

IDC sedikit "menyalahkan" rendahnya tingkat adopsi Windows 8 untuk masalah penurunan pengiriman PC ini. 

Menurut IDC, seharusnya Windows 8 yang diluncurkan pada awal Oktober 2012 ini dapat menjadi tahapan baru dalam industri PC. Sayangnya, Windows 8 masih belum mampu memberikan perubahan yang berarti bagi pasaran PC yang memang sudah terasa lamban.

"Walaupun kuartal tiga digunakan untuk berfokus dalam menghabiskan inventori Windows 7, riset awal membuktikan pembersihan tersebut tidak secara siginifikan meningkatkan serapan dari Windows 8 di kuartal 4 tahun 2012," kata Jay Chou, Senior Research Analyst IDC Worldwide Quarterly PC Tracker, seperti dikutip dari situs resmi IDC, Sabtu (12/1/2013).

Namun, IDC tidak mau melimpahkan semua "kesalahan" kepada Windows 8. Meningkatnya jumlah penjualan perangkat tablet juga dianggap sebagai salah satu penyebab penurunan pengiriman PC secara global.

Selain itu, berdasarkan laporan IDC ini, HP dinobatkan sebagai pengirim PC terbanyak di dunia pada tahun 2012, diikuti Lenovo, Dell, Acer, dan Asus. 


View the original article here

Pusaran Angin di Sinjai dari Gunung Bawakaraeng

Pusaran Angin di Sinjai dari Gunung Bawakaraeng KOMPAS.com/RINI PUTRI Salah satu rumah panggung warga di Dusun Batu, Desa Kasibuleng, Kecamatan Sinjai Borong roboh dan hancur setelah pusaran angin puting beliung menerjangnya.

SINJAI, KOMPAS.com - Angin puting beliung yang melanda ratusan rumah penduduk di Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan beberapa hari lalu ternyata berasal dari Gunung Bawakaraeng.

Sebelum gelombang pusaran angin itu mendekati pemukiman penduduk yang pada umumnya berada di atas tebing, warga sempat mendengar suara gemuruh. Menurut seorang warga bernama Firman, dia dan beberapa warga melihat gelombang pusaran angin itu datang sembari membawa potongan kayu.

"Pertama kita cuman dengar suara gemuruh, hanya beberapa menit, kita sudah melihat gelombang pusaran muncul dari balik Gunung Bawakaraeng. Semua warga mulai lari berhamburan ketika melihat pusaran angin itu sambil mambawa potongan kayu," katanya, kepada Kompas.com, Senin (14/1/2013).

Firman mengaku rumah mereka porak poranda setelah tiga kali putaran angin menerang perkampungan mereka. "Pertama angin datang cuman atap seng yang diangkatnya, setelah itu angin itu kembali dan mengangkat dinding rumah, tidak lama lagi anginnya datang dan mengangkat seluruh bangunan rumah kami," Firman mengisahkan.

Para warga tidak dapat berbuat banyak ketika melihat pusaran angin menerjang rumah maupun perkebunan mereka. Warga mengaku tidak sempat menyelamatkan barang berharga mereka, karena putaran angin cukup cepat. Firman menambahkan, angin juga menyapu bersih perkebunan coklat, cengkeh, pisang.

Kendati tidak ada laporan korban jiwa, namun kerugian yang ditaksir di Dusun Batu, Desa Kasibuleng, Kecamatan Sinjai Borong, mencapai miliaran rupiah. Tingkat kerusakan akibat puting beliung di daerah itu merupakan yang terparah.

Diberitakan sebelumnya, 545 rumah penduduk di tiga desa, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, rusak akibat diterjang puting beliung.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Sinjai Irwan Suaeb mengatakan, dari ratusan rumah tersebut, 71 rumah di antaranya rusak berat, sementara 474 rumah rusak ringan.

"Pemerintah sudah menyalurkan bantuan kepada korban bencana dan bantuan itu akan kami berikan secara bertahap melalui posko bencana di Desa Borong," ujar Irwan Suaeb saat dihubungi melalui telepon genggam, Minggu (13/1/2013).

Sesuai informasi yang dihimpun Kompas.com, hingga sampai saat ini sebagian warga yang rumahnya rusak berat terpaksa mengungsi di gedung sekolah terdekat.


View the original article here

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”...setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa 

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan panganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Leon Agusta Penyair Tinggal di Jakarta


View the original article here

Struktur Terbesar Semesta Menambah Misteri Jagat Raya

ESO Ilustrasi energi kuasar. Astronom menemukan kluster kuasar terbesar di jagat raya, merentang hingga 4 miliar tahun cahaya.

LANCASHIRE, KOMPAS.com - Dengan menganalisis data hasil Sloan Digital Sky Survey, sekelompok astronom menemukan struktur terbesar di jagat raya yang ukurannya mencapai 4 miliar tahun cahaya atau 37,6 septiliun.

"Penemuan ini memberikan banyak kejutan sebab memecahkan rekor kosmologi sebagai struktur terbesar di semesta," kata Roger Clowes, pimpinan tim penelitian dan astronom dari University of Central Lancashire, Inggris.

Struktur terbesar di semesta itu membuat galaksi Bimasakti tampak kerdil. Lebar galaksi Bimasakti hanya 100.000 tahun cahaya sementara kluster galaksi terdekat hanya memiliki lebar 100 juta tahun cahaya. Struktur terbesar di jagat raya itu jutaan kali lebih besar.

Struktur terbesar yang ditemukan adalah kluster kuasar, kumpulan galaksi muda yang aktif, terdiri dari 73 kuasar. Astronom telah mengetahui bahwa kuasar bisa berukuran hingga 700 juta tahun cahaya. Tapi, ukuran kluster kuasar yang ditemukan kali ini benar-benar di luar dugaan.

Kluster kuasar ini menantang pemahaman astronom tentang semesta. Selama ini, diyakini bahwa tak ada objek yang ukurannya melebihi 1,2 miliar tahun cahaya. Temuan ini lebih banyak membeberkan misteri baru semesta, bukan malah mengungkapnya.

Struktur yang secara sederhana disebut Large Quasar Group (LQG) ini juga membuat astronom bepikir kembali sebab sejak masa Einstein, diyakini bahwa semesta tampak seragam bila diobservasi pada skala terbesar.

"Temuan ini bisa berarti bahwa deskripsi matematis kita tentang semesta terlalu disederhanakan dan akan merepresentasikan kesulitan yang serius dan meningkatnya kompleksitas," kata Clowe seperti dikutip National Geographic, Jumat (11/1/2013).

Penemuan ini akan memberikan kesempatan pada astronom untuk menguraikan lebih banyak lagi misteri semesta. Salah satu yang bisa diuraikan adalah evolusi Bimasakti sendiri. Kumpulan kuasar diyakini menjadi pemicu terbentuknya kluster galaksi besar, namun prosesnya belum diketahui.


View the original article here

Tenggelam di Sungai, Ratna Sari Ditemukan di Laut

Tenggelam di Sungai, Ratna Sari Ditemukan di Laut Tim Sar Gabungan mengevakuasi jenazah Ratna Sari yang ditemukan di laut, Minggu (13/01/2013).

PANGKEP, KOMPAS.com - Dikabarkan tenggelam saat berenang di sungai Pangkajene Jumat (10/1/2013), Ratna Sari (13) warga kampung Bucinri, kelurahan Mapasaile, Kecamatan Pangkajene akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa mengapung di laut, Minggu (13/1/2013).

Menurut informasi yang diperoleh, korban tenggelam saat berenang di sungai bersama teman-temannya sore itu. Teman-temannya lebih dulu pulang, sedangkan korban masih berenang di sungai.

Karena lama tak juga pulang, ibu korban, Rohani (35) tahun menanyakan keberadaan anaknya kepada teman sepermandian di sungai. Selanjutnya, Rohani mencari anaknya di sungai dan menemukan sendal dan baju anaknya yang tertinggal.

Pencarian pun dilakukan hingga malam hari di sekitar lokasi kejadian, namun korban tak berhasil ditemukan. Rohani kemudian melaporkan anaknya kedua dari tiga bersaudara ke Polres Pangkep.

Mendengar laporan itu, Kepala Polres Pangkep, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Deni Hermanto segera melakukan pencarian. Selain aparat kepolisian yang melakukan pencarian, turut serta personil Kodim 1421, Tim Sar Gabungan dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pangkep.

Terkendala dengan penerangan, pencarian ditunda dan dilanjutkan Sabtu (12/1/2013) dengan dilakukannya penyisiran sepanjang aliran sungai Pangkajene. Lagi-lagi, kondisi cuaca dengan air laut pasang, pencarian pun ditunda dan dilanjutkan keesokan harinya.

Pencarian pun dilanjutkan hingga ke laut dan jenazah korban berhasil ditemukan di sekitar pulau Saugi, Pangkep. Jenazah korban lalu dievakuasi dan dibawa ke rumah duka dengan menempuh perjalanan selama tiga jam. Jenazah korban rencananya akan divisum, namun pihak keluarga menolaknya.

Wakil Bupati Pangkep, Abd Rahman Assegaf yang ikut mengantar mayat Ratna sari ke rumah duka, menghimbau kepada warganya agar menjaga anak- anaknya untuk tidak mandi-mandi di sungai untuk saat ini. "Mengingat cuaca buruk, saya minta jangan ada yang berenang di sungai dan orang tua harus menjaga anak-anaknya," kata Abd Rahman Assegaf.


View the original article here

Mengenal Teknologi Televisi 4K

Stephen Shankland/CNET CEO Sony Kazuo Hirai memperkenalkan televisi Bravia yang memakai teknologi 4K

KOMPAS.com - Televisi berteknologi 4K jadi salah satu produk yang banyak dipamerkan di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2013. Sony, Samsung, LG, Panasonic, Sharp, ramai-ramai memamerkan televisi 4K.

Memang, saat ini televisi 4K belum bisa menjadi produk konsumen yang "sah". Tak heran jika harganya masih sangat mahal. Karena itu, para produsen berusaha memperkenalkan produk ini ke pasar. Tapi sejauh ini, televisi 4K baru dihadirkan pada pameran berskala besar saja.

Menurut standar yang dibuat Consumer Electronics Association, produk televisi 4K harus memiliki resolusi 3.840 x 2.160 pixel. Video yang mengusung label 4K juga harus memiliki resolusi standar tersebut.

Jika Anda ingin membuat video 4K, maka kamera yang Anda gunakan harus mendukung resolusi 3.840 x 2.160 pixel. Begitu juga dengan komputer atau alat pemutar videonya, memang harus didesain untuk 4K.

Dengan resolusi yang demikian kaya, mata Anda akan dimanjakan oleh detail dan warna tajam yang mirip seperti aslinya. Standar 4K itu jauh di atas standar resolusi high definition (HD) yaitu 1.280 x 720 pixel, dan full-HD (1.920 x 1.080 pixel) yang saat ini telah menjadi produk konsumen.

Di atas 4K, ada lagi standar lebih tinggi yang disebut 8K. Menurut Consumer Electronics Association, teknologi ini membutuhkan resolusi 7.680 x 4.320 pixel.

Kembali ke pameran CES 2013 yang digelar pada 8 hingga 11 Januari 2013 di Las Vegas, AS. Sony memamerkan televisi 4K berukuran mulai dari 56 inci, Samsung 85 inci, bahkan produsen Westinghouse sudah membuat televisi 4K berukuran 110 inci.

Panasonic melakukan pendekatan dengan cara cukup unik. Perusahaan asal Jepang ini membuat tablet Windows 8 berukuran 20 inci namun dengan resolusi layar 4K. Karena tablet ini dibekali pena stylus, maka ia mengincar konsumen yang berprofesi sebagai desainer, arsitek, dan fotografer.

Ke depan, 4K akan menjadi teknologi TV (dan layar monitor) yag patut diperhatikan. Apalagi jika produk dengan resolusi 4K sudah semakin banyak dan harganya mulai turun.


View the original article here

Unair Kembangkan Biogas di Sekitar Merapi

Ilustrasi: Noor Hadi (59), warga Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan instalasi biogas berbasis kotoran sapi di dapur rumahnya, Jumat (30/11/2012). Dengan biogas itu, keluarga Noor Hadi yang semula menghabiskan empat elpiji tiga kilogram per bulan, kini hanya dua elpiji per bulan.

SURABAYA, KOMPAS.com - Tim Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengembangkan biogas dan pupuk organik dari kotoran sapi di sekitar kawasan Gunung Merapi di Dusun Tanjung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta.

"Biogas dan pupuk organik itu merupakan pengembangan dari bantuan Unair dan IKA-UA (Ikatan Alumni Universitas Airlangga) kepada warga terdampak bencana Merapi berupa Peternakan Sapi Terpadu," kata Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Unair Prof Romziah Sidik di Surabaya, Minggu (13/1/2013).

Hasil itu diketahui saat rombongan Unair yang dipimpin Warek I Prof Achmad Syahrani, melakukan kunjungan kerja untuk mengevaluasi bantuan peternakan sapi terpadu bersama ketua LPPM Unair Dr Djoko Agus Purwanto, dan Penasehat IKA-UA Mashariono beserta pengurus lainnya ke desa itu, 12 Januari.

Didampingi koordinator komunikasi media Unair, Nadhiroh, Prof Romziah menjelaskan, peternakan sapi terpadu tersebut memang didesain untuk menghasilkan banyak produk, sehingga warga dapat mengelola peternakan secara mandiri dan meningkatkan penghasilan warga korban Merapi.

"Disebut terpadu, karena terdapat saluran pembuangan kotoran yang langsung dialirkan ke sebuah penampungan khusus untuk menghasilkan biogas dan pupuk cair, lalu sumur sebagai sumber air untuk sapi, serta rumput di sekitar lokasi peternakan," katanya.

Bukan hanya itu, Unair pun menggandeng koperasi susu "Sarono Makmur" yang berlokasi tak jauh dari peternakan untuk membina peternak dan menyalurkan susu perah hasil peternakan terpadu tersebut. "Kami lega, alih teknologi yang kami perkenalkan berupa biogas telah bisa dinikmati warga," kata Romziah.

Hal ini dibenarkan Kepala Dusun Tanjung, Siti Aisyah, yang telah menikmati biogas untuk memasak. "Alhamdulillah, kami dapat memanfaatkan biogas dari kotoran sapi di sini untuk memasak," ujarnya sambil menyalakan api kompor gas, yang bersumber dari biogas.

Selain memanfaatkan biogas, pupuk cair (organik) yang dihasilkan juga telah dimanfaatkan warga desa untuk menumbuhkan sawah mereka. "Pupuk cair ini biasanya digunakan warga untuk menanam cabai, bawang merah dan tomat yang ada di sekitar sini," kata Siti Aisyah.

Sementara itu, Penasehat IKA-UA Mashariono mengaku, pembangunan peternakan terpadu dengan tabung biogas di dalamnya memakan biaya yang tidak sedikit, yaitu Rp 125 juta. "Itu belum termasuk sapinya," katanya.

Mashariono saat itu juga menyerahkan bantuan untuk pembelian matras sebagai alas sapi itu menegaskan bahwa dana tersebut merupakan hasil pengumpulan dana pada saat pertemuan alumni tahun 2010 plus sumbangan dari Unair sendiri.

"Itu menunjukkan bukti bahwa Unair selain peduli pada bencana lokal, juga peduli terhadap bencana nasional, karena sebelumnya kami juga membantu penduduk sekitar Gunung Bromo berupa pengembangan batik Bromo, ternak lele, dan budidaya jamur," katanya.

Dalam kesempatan itu, Amin Muhtar dari Koperasi Sarono Makmur mengatakan, sapi yang disumbangkan Unair telah menghasilkan susu rata-rata 14 liter per sapi per hari. "Koperasi membeli susu dari peternakan itu seharga Rp 3.000 per liter," katanya.


View the original article here